Cahaya
النُّور
النُّور

LEARNING POINTS
Surah ini mengajarkan kaum mukminin adab-adab berinteraksi satu sama lain.
Haram hukumnya menjalin hubungan romantis di luar pernikahan.
Kita tidak boleh menyebarkan fitnah atau informasi yang salah tentang orang lain.
Kita tidak boleh mempercayai segala sesuatu yang kita dengar.
Kaum Muslimin dan Muslimat diperintahkan untuk menjaga kesopanan.
Hendaknya kita meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain.
Allah berjanji untuk menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.
Orang-orang beriman dibimbing oleh nur Allah, sedangkan orang-orang durhaka tersesat dalam kegelapan.
Allah memiliki ilmu dan kekuasaan yang sempurna.
Segala sesuatu di alam semesta bertasbih kepada Allah.
Kaum munafik dikecam karena membangkang Nabi (ﷺ).
Umat Islam harus senantiasa menghormati dan memuliakan Nabi (ﷺ).

Pendahuluan
1Ini adalah suatu surah yang Kami turunkan, dengan hukum-hukum yang harus ditaati, dan Kami nyatakan di dalamnya pelajaran-pelajaran yang jelas agar kamu mengingatnya.
سُورَةٌ أَنزَلۡنَٰهَا وَفَرَضۡنَٰهَا وَأَنزَلۡنَا فِيهَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖ لَّعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ1
Hukuman untuk Hubungan Asmara yang Haram
2Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihanmu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.
ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ2
Verse 2: Agar hukuman dapat diterapkan oleh pihak berwenang, perbuatan zina tersebut harus dibuktikan dengan pengakuan atau dengan 4 saksi yang terpercaya.

BACKGROUND STORY
Salah seorang sahabat, bernama Marthad bin Abi Marthad (RA), dulunya mengenal seorang wanita musyrik Mekah yang tidak senonoh sebelum ia memeluk Islam. Kemudian, ketika Marthad (RA) menerima Islam, ia bertanya kepada Nabi (ﷺ) apakah ia boleh menikahi wanita tersebut. Ayat 3 diturunkan, memberitahu Marthad (RA) bahwa ia tidak boleh menikahi wanita musyrik tersebut. {Imam At-Tirmidzi}
Penting untuk dicatat bahwa Islam membuka pintu bagi manusia untuk bertaubat. Mereka yang berdosa di masa lalu dan kemudian mengubah jalan hidup mereka akan diterima oleh Allah dan seluruh komunitas Muslim lainnya, selama mereka tulus.
Sama untuk Sama
3Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina, atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina, atau laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.
ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٞۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ3
Tuduhan Tanpa Bukti
4Adapun orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik-baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka delapan puluh kali. Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya, karena mereka adalah orang-orang yang fasik. 5Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 4إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ وَأَصۡلَحُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ5
Para Suami Menuduh Istri-istri Mereka
6Dan orang-orang yang menuduh istri-istri mereka (berzina), padahal tidak ada saksi bagi mereka kecuali diri mereka sendiri, maka salah seorang dari mereka bersumpah empat kali dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar, 7dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah akan menimpanya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. 8Untuk menghindarkan dirinya dari hukuman, ia harus bersumpah empat kali dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya dia (suaminya) termasuk orang-orang yang berdusta, 9dan (sumpah) yang kelima bahwa kemurkaan Allah akan menimpanya jika dia (suaminya) termasuk orang-orang yang benar. 10Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya kamu ditimpa azab yang besar. Dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Bijaksana.
وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ 6وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ 7وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ 8وَٱلۡخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ 9وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ10
Verse 9: Hukum ini disebut li'an dalam syariat Islam. Setelah suami dan istri masing-masing bersumpah lima kali, pernikahan itu berakhir, artinya mereka tidak bisa menikah lagi.

BACKGROUND STORY
Setelah Perang Uhud, di mana kaum Muslimin mengalami kekalahan, beberapa kabilah berpikir bahwa komunitas Muslim di Madinah telah menjadi lemah. Kabilah-kabilah tersebut mulai bersiap untuk menyerang kota. Nabi (ﷺ) harus memimpin ekspedisi untuk menghentikan kabilah-kabilah tersebut agar tidak mencapai Madinah. Selama salah satu ekspedisi tersebut, beliau ditemani oleh istrinya, 'Aisyah (R.A.). Pada masa itu, wanita biasanya bepergian di dalam sebuah struktur yang menyerupai tenda kecil di atas unta. Setelah istirahat singkat di perjalanan, kafilah meninggalkan perkemahan, tanpa mengetahui bahwa 'Aisyah (R.A.) tidak berada di dalamnya. Beliau pergi mencari kalung yang hilang. Ketika beliau kembali, semua orang sudah pergi, sehingga beliau harus menunggu di sana sendirian. Tak lama kemudian, seorang sahabat bernama Safwan (R.A.) datang dan menyadari bahwa beliau tertinggal, lalu ia mengantarnya kembali ke kafilah.
Tak lama kemudian, kaum munafik mulai menyebarkan desas-desus palsu tentang 'Aisyah (R.A.) dan Safwan (R.A.). Banyak orang menyebarkan berita bohong ini ke seluruh kota, termasuk sebagian kaum Muslimin. 'Aisyah (R.A.) dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan berdoa kepada Allah agar membersihkan namanya. Ini adalah masa yang sangat sulit bagi Nabi (ﷺ) dan komunitas Muslim.

Akhirnya, setelah sebulan, Allah menurunkan ayat 11-26 untuk menyatakan kesuciannya. Ayat-ayat tersebut juga menginstruksikan orang-orang beriman tentang bagaimana seharusnya mereka bereaksi terhadap kebohongan ini. Mereka yang memulai dan menyebarkan desas-desus tersebut diperingatkan akan azab yang mengerikan. {Imam Al-Bukhari & Imam Muslim}

Orang-orang yang Memfitnah Istri Nabi
11Sesungguhnya orang-orang yang menyebarkan berita bohong yang keji itu adalah segolongan dari kamu. Janganlah kamu mengira itu buruk bagimu, bahkan itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia perbuat dari dosa itu. Dan adapun orang yang memikul bagian terbesar dari dosa itu, dia akan mendapat azab yang besar.
إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيم11

BACKGROUND STORY
Ketika 'Aisyah (R.A.) difitnah dan desas-desus mulai menyebar, salah seorang sahabat, bernama Abu Ayyub Al-Anshari (R.A.), mendiskusikan situasi tersebut dengan istrinya. Dia bertanya, "Tidakkah engkau mendengar apa yang orang-orang katakan tentang istri Nabi?" Istrinya menjawab, "Itu semua dusta." Dia lalu berkata, "Jika engkau adalah 'Aisyah (R.A.), akankah engkau melakukan hal seperti itu?" Istrinya berkata, "Mustahil!" Dia berkomentar, "Demi Allah! 'Aisyah (R.A.) lebih baik darimu, dan lebih mustahil lagi baginya untuk melakukan itu." Istrinya lalu berkata kepadanya, "Jika engkau adalah Shafwan (R.A.), akankah engkau melakukan hal seperti itu?" Dia menjawab, "Mustahil!" Istrinya berkomentar, "Demi Allah! Shafwan (R.A.) lebih baik darimu, dan lebih mustahil lagi baginya untuk melakukan itu."
Menurut banyak ulama, ayat 12 turun untuk mengajarkan kaum mukmin bahwa mereka seharusnya bereaksi seperti Abu Ayyub (R.A.) dan istrinya. {Imam Ibnu Katsir & Imam Al-Qurthubi}

SIDE STORY
Seorang pria mendatangi imam setelah salat Jumat untuk menceritakan sesuatu yang ia dengar tentang anggota komunitas lain. Imam berkata kepadanya, "Sebelum Anda mengatakan apa pun, mari kita jalankan Uji Tiga Saringan!" Pria itu tidak tahu apa uji tersebut. Imam menjelaskan bahwa uji tersebut terdiri dari 3 pertanyaan sederhana untuk menyaring apa yang akan dikatakan pria itu. Imam berkata, "Saringan pertama: apakah Anda benar-benar yakin bahwa apa yang Anda dengar tentang orang itu adalah benar?" Pria itu menjawab bahwa ia tidak yakin karena ia baru saja mendengarnya dari orang lain. Imam kemudian berkata, "Saringan kedua: apakah itu sesuatu yang baik yang Anda dengar tentang orang itu?" Pria itu menjawab bahwa bukan.
Imam kemudian berkata, "Saringan ketiga: apakah apa yang ingin Anda ceritakan kepada saya akan bermanfaat bagi salah satu dari kita?" Pria itu menjawab, "Tidak juga." Imam menanggapi, "Jika apa yang ingin Anda ceritakan kepada saya tentang orang itu tidak benar, tidak baik, atau tidak bermanfaat, lalu apa gunanya membagikannya kepada saya?"


WORDS OF WISDOM
Uji Tiga Saringan sangat penting, terutama saat kita berinteraksi dengan orang lain. Kita bisa menggunakan uji ini saat kita menyebarkan: rumor tentang teman-teman kita tanpa memverifikasi informasi tersebut; konspirasi (informasi palsu atau menyesatkan) di media sosial tanpa memeriksa ulang untuk memastikan kebenarannya; atau pernyataan (hadis) dari Nabi (ﷺ) tanpa memastikan bahwa beliau benar-benar mengucapkan kata-kata tersebut.

WORDS OF WISDOM
Ayat 12 mengajarkan kita sebuah konsep Islam yang agung bernama `husnu az-zann`, yang berarti berprasangka baik terhadap orang lain. Sebagai contoh, kita harus berprasangka baik kepada Allah. Ketika kita berdoa, kita percaya bahwa Dia akan mengabulkan doa kita. Jika tidak segera dikabulkan, kita percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik untuk kita pada waktu yang tepat. Jika kita melakukan sesuatu yang baik, kita percaya bahwa Dia akan memberikan pahala yang besar kepada kita. Jika kita memohon ampunan, kita percaya bahwa Dia akan mengampuni kita. Jika kita meninggalkan dunia ini, kita percaya bahwa Dia akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita dan menganugerahkan Jannah (surga).
Kita juga harus berprasangka baik terhadap sesama dan memberi mereka ruang untuk kemungkinan baik. Kita harus berusaha mencari alasan (pembenaran) dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan jika mereka melakukan kesalahan atau tidak memenuhi harapan kita. Jika seorang teman tidak segera membalas pesan Anda, ini tidak berarti mereka mengabaikan Anda. Mungkin mereka sedang sangat sibuk karena ada keadaan darurat. Jika mereka tidak menyukai postingan yang Anda bagikan di media sosial, ini tidak berarti mereka tidak menyukai Anda lagi. Mungkin mereka hanya tidak melihatnya. Berprasangka baik atau buruk terhadap orang lain menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Orang baik berprasangka baik terhadap orang lain, dan orang jahat berprasangka buruk terhadap semua orang.

SIDE STORY
Pada suatu ketika, hiduplah seorang petani yang kehilangan kapaknya. Ia menduga tetangganya adalah pencurinya. Tetangganya bertingkah seperti pencuri, berjalan seperti pencuri, dan berbicara seperti pencuri. Istri tetangganya pun tampak seperti pencuri. Dan anak-anak mereka tampak seperti pencuri-pencuri kecil. Ketika ia mendengar mereka berbicara, ia mengira mereka sedang membicarakan kapaknya. Ketika ia mendengar mereka tertawa, ia mengira mereka sedang melontarkan lelucon tentang dirinya. Ketika ia melihat mereka mengerjakan pekerjaan rumah, ia mengira mereka sedang merencanakan pencurian berikutnya.
Dua hari kemudian, tepat ketika ia berencana untuk menyatakan perang terhadap tetangga-tetangganya yang ia anggap kriminal, ia menemukan kapak yang hilang itu di bawah tumpukan jerami di halaman belakang rumahnya. Tiba-tiba, tetangganya bukan lagi seorang pencuri. Istri dan anak-anak tetangga itu pun kembali normal. Pria itu menyadari bahwa tetangga-tetangganya bukanlah pencuri—dialah pencurinya karena ia telah mencuri martabat mereka.

SIDE STORY
Seorang pria sedang menunggu penerbangannya di bandara. Dia membeli sebuah buku dan sekotak kecil kue dari toko-toko bandara, lalu duduk di depan gerbang. Saat dia sedang membaca buku, dia menyadari bahwa wanita tua yang duduk di sebelahnya dengan berani memakan kue miliknya. Pria itu merasa jengkel dengan perilakunya. Setiap kali dia mengambil kue, wanita itu dengan senang hati mengambil satu juga. Kemudian penerbangannya dipanggil dan hanya tersisa satu kue di dalam kotak. Dia menatapnya, membelah kue itu, memasukkan separuh ke mulutnya, dan menawarinya separuh lainnya. Dia merebutnya dari tangannya saat wanita itu pergi dengan senyum lebar di wajahnya.
Pria itu sangat marah saat itu. Dia berkata pada dirinya sendiri, "Pencuri kue yang tidak tahu berterima kasih! Dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih." Kemudian penerbangannya dipanggil, jadi dia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu melanjutkan membaca bukunya. Kemudian, ketika dia membuka tasnya untuk memasukkan paspor, dia terkejut menemukan sekotak penuh kue di dalamnya. Ternyata dia selama ini memakan kue milik wanita itu. Dia bahkan berbagi kue terakhir dengannya. Dia merasa sangat menyesal, tetapi sudah terlambat untuk meminta maaf karena wanita tua itu sudah berada di penerbangan yang berbeda.


SIDE STORY
Imam Ibrahim ibn Adham adalah seorang ulama dan pria yang baik. Suatu hari, dia sedang duduk bersama beberapa temannya ketika seorang tetangga jauh lewat tanpa menyapa mereka. Ibrahim tidak berkata, 'Mengapa orang ini begitu sombong sampai tidak mengucapkan salam kepada kami.' Sebaliknya, dia mengutus seorang asisten untuk menanyakan apakah semuanya baik-baik saja. Pria itu mengatakan bahwa dia sedang stres karena istrinya baru saja melahirkan dan dia baru menyadari bahwa mereka tidak memiliki persediaan apa pun di rumah. Inilah sebabnya pikirannya begitu sibuk sehingga dia lupa mengucapkan salam kepada imam.
Setelah mendengar apa yang terjadi, Imam Ibrahim merasa kasihan kepada pria itu dan menyuruh asistennya untuk pergi ke pasar dan membeli persediaan yang cukup untuk rumah pria itu.

SIDE STORY
Ada seorang pria dermawan bernama Yahya bin Talhah. Suatu hari istrinya mengeluh kepadanya, mengatakan, "Teman-temanmu bukanlah orang baik, karena mereka hanya datang kepadamu saat kamu memiliki harta, tetapi ketika kamu tidak memiliki harta, mereka tidak pernah datang kepadamu." Dia menjawab, "Ini justru bukti bahwa mereka adalah orang baik, karena mereka hanya datang kepada kita ketika mereka tahu kita mampu membantu mereka. Tetapi ketika kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan, mereka tidak ingin menjadi beban bagi kita."
Bagaimana Seharusnya Para Mukmin Menanggapi
12Kaum mukminin dan mukminat seharusnya berprasangka baik satu sama lain ketika kalian pertama kali mendengar kabar bohong ini, dan berkata, 'Ini adalah dusta yang nyata!' 13Mengapa mereka tidak mendatangkan empat saksi? Maka, karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi itu, mereka adalah benar-benar pendusta di sisi Allah. 14Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian di dunia ini dan di akhirat, niscaya kalian akan ditimpa azab yang sangat pedih disebabkan oleh apa yang telah kalian perbuat. 15Ingatlah ketika kalian menyebarkan dusta ini dari mulut ke mulut, dan kalian mengucapkan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui. Kalian menganggapnya remeh, padahal itu sangat besar di sisi Allah. 16Begitu kalian mendengarnya, seharusnya kalian berkata, 'Tidak pantas bagi kita membicarakan hal seperti ini! Subhanallah! Ini adalah dusta yang sangat keji!' 17Allah melarang kalian mengulangi perbuatan seperti ini lagi, jika kalian benar-benar beriman. 18Allah menerangkan pelajaran-pelajaran itu kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ 12لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ 13وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ 14إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيم 15وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيم 16يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 17وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ18
Peringatan Terhadap Perbuatan Keji
19Sesungguhnya orang-orang yang ingin tersebarnya kekejian di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 20"Niscaya kamu akan menderita," sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 19وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ20
Peringatan Terhadap Setan
21Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh (melakukan) perbuatan yang keji dan mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu akan suci (dari dosa) selama-lamanya. Tetapi Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ21

SIDE STORY
Seorang pria bertemu gurunya di sebuah restoran 30 tahun setelah lulus dari sekolah dasar. Dia bertanya apakah gurunya mengingatnya, tetapi sang guru mengatakan dia tidak yakin. Pria itu berkata, "Apakah Anda ingat ketika seorang siswa lain di kelas yang sama membawa jam tangan yang indah ke sekolah? Selama istirahat makan siang, jam tangan itu dicuri dari tasnya dan dia datang kepada Anda sambil menangis untuk melaporkan jam tangannya yang dicuri. Anda menyuruh kami berbaris di dinding dengan mata tertutup. Kemudian Anda menggeledah tas kami, satu per satu, dan akhirnya menemukan jam tangan itu di tas salah satu siswa di tengah barisan. Pencuri itu sangat khawatir Anda akan mempermalukannya di depan seluruh kelas dan mungkin membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Tapi Anda tidak melakukannya. Anda melanjutkan pencarian sampai tas terakhir sebelum meminta semua orang membuka mata dan kembali ke tempat duduk mereka. Kemudian Anda mengembalikan jam tangan itu kepada siswa yang telah kehilangannya."
Pria itu kemudian mengaku, "Saya adalah pencuri itu. Tapi berkat Anda, tidak ada yang tahu tentang apa yang saya lakukan." Guru itu berdehem dan berkata, "Oh, saya juga tidak tahu siapa yang mencurinya karena saya memejamkan mata saat menggeledah tas. Saya menutupi kesalahanmu, berharap Allah akan menutupi kesalahanku."

BACKGROUND STORY
Abu Bakar As-Siddiq (R.A.), ayah 'Aisyah, biasa memberikan uang kepada sepupunya yang miskin, Mistah (R.A.). Ketika ia mengetahui bahwa Mistah (R.A.) adalah salah satu orang yang menyebarkan kebohongan tentang 'Aisyah (R.A.), ia memutuskan untuk berhenti mendukungnya. Ayat 22 diturunkan, memerintahkan Abu Bakar (R.A.) untuk terus memberikan sedekah kepada Mistah (R.A.) dan memaafkannya. Abu Bakar (R.A.) berjanji untuk melanjutkan dukungannya, berharap mendapatkan ampunan dan berkah Allah sebagai balasannya. {Imam Al-Bukhari & Imam Muslim}

WORDS OF WISDOM
Allah mencintai ketika orang-orang memberi kepada mereka yang membutuhkan. Inilah mengapa Zakat adalah salah satu dari lima rukun Islam. Seseorang harus membayar 2,5% Zakat jika mereka memiliki uang setara dengan nilai 85 gram emas dan jika uang tersebut telah tersimpan selama satu tahun Hijriah (355 hari). Orang-orang juga dianjurkan untuk bersedekah, yang mencakup jumlah berapa pun yang dibayarkan kapan saja sepanjang tahun. Dalam bahasa Arab, kata 'Zakat' berarti menyucikan dan menumbuhkan. Islam menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang bersedekah.
Nabi (ﷺ) bersabda: "Harta tidak akan berkurang karena sedekah." {Imam Muslim}
Nabi (ﷺ) bersabda: "Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api." {Imam Ahmad}

Para malaikat berdoa kepada Allah agar menambah kekayaan orang-orang yang bersedekah." {Imam Al-Bukhari & Imam Muslim}

SIDE STORY
Ini adalah kisah nyata yang terjadi di Afghanistan bertahun-tahun lalu. Seorang pemilik restoran memasak makanan dalam jumlah besar untuk makan malam, berharap bisa menjual semuanya di malam hari seperti biasa. Tiba-tiba, terjadi badai hujan lebat yang menyebabkan pemadaman listrik. Pemilik panik karena tidak ada yang akan datang ke restoran malam itu dan mereka tidak bisa menyimpan semua makanan di lemari es karena listrik padam.
Tidak lama kemudian, dia melihat 3 sosok mendekati restorannya dalam kegelapan. Awalnya, dia mengira mereka pencuri, tetapi ternyata itu adalah seorang wanita miskin dengan 2 anaknya yang datang meminta sedekah. Dia memberitahunya bahwa mereka belum makan selama beberapa hari terakhir. Dia merasa kasihan pada mereka, menyajikan makanan terbaik di restorannya, dan memberi mereka sejumlah uang. Sebelum mereka pergi, wanita itu berdoa kepada Allah agar memberkahi usahanya.

Setelah mereka pergi, pemilik duduk untuk menghitung berapa kerugiannya jika dia membuang semua makanan. Tiba-tiba, sebuah bus besar muncul entah dari mana dan berhenti di depan restorannya. Lebih dari 40 pelancong datang untuk membeli makan malam darinya. Mereka memakan semua makanan dan dia bahkan harus memasak lebih banyak untuk mereka di kompor gasnya. Malam itu, dia menghasilkan uang jauh lebih banyak daripada malam lainnya karena sedekah yang telah dia berikan kepada wanita dan anak-anaknya itu.
Jangan Berhenti Berbuat Kebaikan
22Orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kelapangan di antara kamu janganlah bersumpah untuk tidak memberikan (bantuan) kepada kerabat mereka, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka jika Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ22
Hukuman atas Tuduhan Palsu
23Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita mukminah yang menjaga kehormatan dan tidak bersalah, mereka dilaknat di dunia dan di akhirat. Dan bagi mereka azab yang pedih. 24Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka akan bersaksi atas apa yang telah mereka kerjakan. 25Pada hari itu, Allah akan menyempurnakan balasan mereka dengan balasan yang setimpal, dan mereka akan mengetahui bahwa Allah adalah Kebenaran yang Nyata.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيم 23يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 24يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ وَيَعۡلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ25
Verse 23: Mereka begitu polos sehingga hal-hal ini bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka.
SAMA UNTUK SAMA
26Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang keji. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.
ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ26
Memasuki Tempat Pribadi dan Umum
27Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. 28Dan jika kamu tidak menemukan seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” maka kembalilah! Itu lebih suci bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 29Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah-rumah yang tidak didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu. Dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ 27فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا فَلَا تَدۡخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ 28لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ29
Nasihat untuk Kaum Pria Muslim
30Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ30
Nasihat untuk Muslimah
31Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka melabuhkan kerudung mereka hingga menutupi dada mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka (anak tiri), atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita (sesama muslim) mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ31
Verse 31: yaitu rambut, lengan, dan kaki.

BACKGROUND STORY
'Abdullah ibn Ubayy ibn Salul adalah seorang munafik yang tinggal di Madinah. Dia biasa memaksa budak-budak perempuannya untuk melakukan praktik prostitusi agar dia bisa menghasilkan uang. Budak-budak itu mengadu kepada Nabi (ﷺ), sehingga ayat 33 diturunkan untuk mengakhiri praktik jahat ini. {Imam Muslim}
Nasihat untuk Wali
32Nikahkanlah orang-orang yang masih melajang di antara kamu, demikian pula hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan yang beriman. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kekayaan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. 33Adapun orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah mereka menjaga kesucian dirinya sampai Allah memberi kekayaan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan jika hamba sahayamu ingin memerdekakan diri (dengan membayar), maka berilah kesempatan kepada mereka jika kamu melihat ada kebaikan pada mereka. Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta yang Allah anugerahkan kepadamu. Dan janganlah kamu paksa hamba sahayamu perempuan untuk melakukan perzinaan, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa. 34Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ 32وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱلَّذِينَ يَبۡتَغُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ فَكَاتِبُوهُمۡ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ خَيۡرٗاۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡۚ وَلَا تُكۡرِهُواْ فَتَيَٰتِكُمۡ عَلَى ٱلۡبِغَآءِ إِنۡ أَرَدۡنَ تَحَصُّنٗا لِّتَبۡتَغُواْ عَرَضَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَمَن يُكۡرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعۡدِ إِكۡرَٰهِهِنَّ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 33وَلَقَدۡ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ ءَايَٰتٖ مُّبَيِّنَٰتٖ وَمَثَلٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۡ وَمَوۡعِظَةٗ لِّلۡمُتَّقِينَ34
Verse 34: Sebelum Aisyah, Maryam dan Nabi Yusuf masing-masing pernah difitnah melakukan perbuatan tercela, tetapi Allah menyatakan kesucian mereka.

Nur Iman
35Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca. Kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya terang, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang diberkahi, yang tidak di timur dan tidak pula di barat. Minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya! Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki kepada cahaya-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 36Cahaya itu (bersinar) di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk ditinggikan, dan di dalamnya disebut nama-Nya. Bertasbih kepada-Nya di sana pada waktu pagi dan petang 37oleh laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang, 38agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan dan menambah (karunia-Nya) kepada mereka dari anugerah-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas.
ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٖ فِيهَا مِصۡبَاحٌۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِي زُجَاجَةٍۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوۡكَبٞ دُرِّيّٞ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٖ مُّبَٰرَكَةٖ زَيۡتُونَةٖ لَّا شَرۡقِيَّةٖ وَلَا غَرۡبِيَّةٖ يَكَادُ زَيۡتُهَا يُضِيٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٞۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖۚ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ 35فِي بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ 36رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ 37لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَاب38
Verse 35: Maksudnya, pohon zaitun disinari matahari sepanjang hari, sehingga dapat menghasilkan minyak yang berkualitas baik.
Kegelapan Kekafiran
39Adapun orang-orang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di padang pasir, yang disangka air oleh orang yang kehausan. Tetapi ketika mereka mendatanginya, mereka tidak mendapatinya sesuatu pun. Malah, mereka mendapati Allah di sana 'di Akhirat, siap' untuk menyelesaikan perhitungan mereka. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. 40Atau amal perbuatan mereka seperti kedalaman kegelapan di samudra yang dalam tak berdasar, ditutupi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada awan gelap. Kegelapan di atas kegelapan! Jika seseorang mengulurkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tiadalah baginya cahaya!
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمَۡٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡٔٗا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ 39أَوۡ كَظُلُمَٰتٖ فِي بَحۡرٖ لُّجِّيّٖ يَغۡشَىٰهُ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٞۚ ظُلُمَٰتُۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَىٰهَاۗ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورٗا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ40
Verse 40: Ini adalah fakta ilmiah lain yang disebutkan dalam Al-Qur'an: keberadaan gelombang bawah air, seperti lapisan-lapisan.
Penyerahan Diri Sepenuhnya kepada Allah
41Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah disucikan oleh siapa saja yang di langit dan di bumi, bahkan burung-burung yang membentangkan sayapnya? Masing-masing sungguh mengetahui cara salatnya dan tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan. 42Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah tempat kembali.
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلطَّيۡرُ صَٰٓفَّٰتٖۖ كُلّٞ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ 41وَلِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ42
MUKJIZAT HUJAN
43Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menggiring awan dengan perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk, maka kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya? Dan Dia menurunkan dari langit gunung-gunung awan yang bermuatan butiran es, lalu Dia menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilatan cahayanya hampir-hampir menghilangkan penglihatan. 44Allah mempergilirkan siang dan malam. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزۡجِي سَحَابٗا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيۡنَهُۥ ثُمَّ يَجۡعَلُهُۥ رُكَامٗا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٖ فِيهَا مِنۢ بَرَدٖ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصۡرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُۖ يَكَادُ سَنَا بَرۡقِهِۦ يَذۡهَبُ بِٱلۡأَبۡصَٰرِ 43يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ44
MUKJIZAT PENCIPTAAN
45Dan Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup dari air. Di antara mereka ada yang berjalan di atas perutnya, ada yang berjalan dengan dua kaki, dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
وَٱللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَآبَّةٖ مِّن مَّآءٖۖ فَمِنۡهُم مَّن يَمۡشِي عَلَىٰ بَطۡنِهِۦ وَمِنۡهُم مَّن يَمۡشِي عَلَىٰ رِجۡلَيۡنِ وَمِنۡهُم مَّن يَمۡشِي عَلَىٰٓ أَرۡبَعٖۚ يَخۡلُقُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِير45

BACKGROUND STORY
Ada seorang munafik bernama Bishr yang berselisih dengan seorang Yahudi mengenai sebidang tanah. Orang Yahudi itu berkata kepadanya, "Mari kita pergi kepada Muhammad (ﷺ) untuk menghakimi di antara kita." Tetapi Bishr menolak, dengan alasan, "Kita seharusnya pergi kepada orang lain, karena Nabi (ﷺ) tidak akan menghakimi secara adil di antara kita." Maka ayat 47-50 diturunkan untuk mengkritik sikap tidak beriman ini. {Imam At-Tabari & Imam Al-Qurtubi}

WORDS OF WISDOM
Seperti banyak surah Madaniyah, surah ini berbicara tentang sikap dan praktik buruk orang-orang munafik. Para ulama mengatakan ada 2 jenis kemunafikan: kemunafikan dalam akidah, yang berarti seseorang berpura-pura menjadi Muslim tetapi hatinya kafir. Al-Quran mengatakan bahwa orang-orang ini akan berada di dasar neraka dan mereka akan kekal di sana selamanya (4:145).
Jenis kedua adalah kemunafikan dalam perbuatan, yang berarti seseorang sebenarnya Muslim tetapi mereka melakukan beberapa perbuatan buruk. Misalnya, Nabi (ﷺ) bersabda bahwa orang munafik memiliki 4 ciri: 1) Apabila berbicara, mereka berdusta, 2) Apabila berjanji, mereka mengingkarinya, 3) Apabila diberi amanah, mereka mengkhianatinya, 4) Apabila berselisih, mereka berbuat curang/melampaui batas. {HR. Imam Al-Bukhari & Imam Muslim} Adapun kelompok ini, terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukum mereka. Jika mereka berakhir di neraka, mereka akan dihukum atas dosa-dosa mereka tetapi pada akhirnya akan masuk Jannah. Tidak ada Muslim yang akan kekal di neraka selamanya.

KAUM MUNAFIK DAN PENGHAKIMAN
46Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas, tetapi hanya Allah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. 47Orang-orang munafik itu berkata, "Kami beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami taat." Kemudian segolongan dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang mukmin yang sebenarnya. 48Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar (Rasul) memutuskan perkara di antara mereka, segolongan dari mereka enggan datang. 49Tetapi jika keputusan itu akan menguntungkan mereka, mereka segera datang kepadanya dengan tunduk sepenuhnya. 50Apakah ada penyakit dalam hati mereka? Ataukah mereka ragu-ragu? Ataukah mereka takut bahwa Allah dan Rasul-Nya akan berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, merekalah orang-orang yang benar-benar berbuat zalim.
لَّقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتٖ مُّبَيِّنَٰتٖۚ وَٱللَّهُ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيم 46وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلرَّسُولِ وَأَطَعۡنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٞ مِّنۡهُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَۚ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ 47وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ 48وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ مُذۡعِنِينَ 49أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ50
Verse 48: Karena mereka tahu mereka bersalah.
Para Mukmin dan Penghakiman
51Tidaklah jawaban orang-orang mukmin yang sejati, apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar (Rasul) memutuskan perkara di antara mereka, melainkan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat." Dan merekalah orang-orang yang beruntung. 52Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka merekalah orang-orang yang beruntung.
إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 51وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقۡهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ52
Lidah Manis Kaum Munafik
53Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh, bahwa jika engkau (Muhammad) menyuruh mereka, niscaya mereka akan berangkat (berperang). Katakanlah, "Janganlah kamu bersumpah; ketaatanmu sudah dimaklumi." Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 54Katakanlah, "Taatilah Allah dan taatilah Rasul." Namun jika kamu berpaling, maka dia hanya memikul kewajibannya¹⁴ dan kamu memikul kewajibanmu.¹⁵ Dan jika kamu menaatinya, niscaya kamu akan mendapat petunjuk yang benar. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (risalah) dengan jelas.
وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَئِنۡ أَمَرۡتَهُمۡ لَيَخۡرُجُنَّۖ قُل لَّا تُقۡسِمُواْۖ طَاعَةٞ مَّعۡرُوفَةٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 53قُلۡ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَۖ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيۡكُم مَّا حُمِّلۡتُمۡۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ54
Verse 53: Tugas mereka hanyalah menaati Nabi dengan berserah diri kepada Allah.
Verse 54: Tugas Nabi hanyalah menyampaikan risalah.

BACKGROUND STORY
Komunitas Muslim selalu berada di bawah ancaman dari berbagai musuh, dari dalam dan luar Madinah. Beberapa sahabat Nabi bertanya kepadanya apakah mereka akan terus hidup dalam ketakutan. Nabi (ﷺ) memberi tahu mereka bahwa tidak lama lagi mereka akan hidup dalam kedamaian dan menguasai sebagian besar dunia. Dalam beberapa tahun, seluruh Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan Nabi (ﷺ).
Tidak lama setelah wafatnya, pasukan Muslim yang kecil mampu mengalahkan 2 negara adidaya dunia (kekaisaran Romawi dan Persia) pada saat yang bersamaan. Kekuasaan Muslim menyebar ke sebagian besar Asia, Afrika, dan Eropa—dari Tiongkok di timur hingga Samudra Atlantik di barat, termasuk seluruh Afrika Utara dan beberapa bagian Eropa seperti Turki dan Spanyol. {Imam Ibnu Katsir}

Janji Allah kepada Orang-Orang Beriman
55Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang "setia" sebelum mereka berkuasa; dan sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridai untuk mereka; dan Dia benar-benar akan mengubah ketakutan mereka menjadi keamanan—selama mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Tetapi barang siapa yang kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. 56Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul, agar kamu diberi rahmat. 57Janganlah sekali-kali engkau menyangka (wahai Nabi) bahwa orang-orang kafir itu dapat melemahkan (kekuasaan) Allah di bumi. Neraka adalah tempat kediaman mereka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali!
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 55وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 56لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ57
Mohon Izin Masuk
58Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah budak-budak yang kamu miliki dan anak-anakmu yang belum balig meminta izin kepadamu untuk masuk pada tiga waktu: sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu (untuk istirahat) di tengah hari, dan setelah salat Isya. Itulah tiga aurat (waktu pribadi) bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari (waktu-waktu) itu, untuk keluar masuk (berinteraksi bebas) di antara kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. 59Apabila anak-anakmu telah mencapai usia balig, hendaklah mereka meminta izin (untuk masuk), sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka (orang dewasa) meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسۡتَٔۡذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَبۡلُغُواْ ٱلۡحُلُمَ مِنكُمۡ ثَلَٰثَ مَرَّٰتٖۚ مِّن قَبۡلِ صَلَوٰةِ ٱلۡفَجۡرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعۡدِ صَلَوٰةِ ٱلۡعِشَآءِۚ ثَلَٰثُ عَوۡرَٰتٖ لَّكُمۡۚ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم بَعۡضُكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ 58وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ فَلۡيَسۡتَٔۡذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَٔۡذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ59
Kesopanan untuk Wanita Lanjut Usia
60Adapun wanita-wanita tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah lagi, maka tidak ada dosa atas mereka menanggalkan pakaian luar mereka tanpa menampakkan perhiasan mereka. Tetapi memelihara diri (dengan tetap memakai pakaian luar) adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۢ بِزِينَةٖۖ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيم60

BACKGROUND STORY
Ayat 61 menyatakan bahwa diperbolehkan bagi orang buta, orang cacat, dan orang sakit untuk tidak ikut berbaris bersama pasukan Muslim.
Juga, sebagian Muslim dahulu biasa memberikan kunci rumah mereka kepada salah satu dari mereka yang tidak dapat bergabung dengan pasukan (seperti orang buta, orang cacat, atau orang sakit) atau kerabat mereka sendiri, dan meminta mereka untuk masuk ke rumah mereka dan makan kapan saja, tetapi orang-orang ini merasa segan untuk melakukannya. {Imam Ibnu Katsir}
Keringanan Diberikan
61Tidak ada dosa atas orang buta, tidak (pula) atas orang pincang, tidak (pula) atas orang sakit. Dan tidak (pula) atas diri kalian, jika kalian makan dari rumah-rumah kalian sendiri, atau rumah bapak-bapak kalian, atau rumah ibu-ibu kalian, atau rumah saudara-saudara kalian, atau rumah saudari-saudari kalian, atau rumah paman-paman kalian (dari pihak bapak), atau rumah bibi-bibi kalian (dari pihak bapak), atau rumah paman-paman kalian (dari pihak ibu), atau rumah bibi-bibi kalian (dari pihak ibu), atau rumah yang kalian kuasai kuncinya, atau rumah teman-teman kalian. Tidak ada dosa bagi kalian makan bersama-sama atau sendiri-sendiri. Maka apabila kalian memasuki rumah-rumah, ucapkanlah salam (kepada penghuninya, yaitu) salam yang diberkahi lagi baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mengerti.
لَّيۡسَ عَلَى ٱلۡأَعۡمَىٰ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡأَعۡرَجِ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرِيضِ حَرَجٞ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَن تَأۡكُلُواْ مِنۢ بُيُوتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ إِخۡوَٰنِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أَعۡمَٰمِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أَخۡوَٰلِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمۡ أَوۡ مَا مَلَكۡتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ أَوۡ صَدِيقِكُمۡۚ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَأۡكُلُواْ جَمِيعًا أَوۡ أَشۡتَاتٗاۚ فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتٗا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةٗ طَيِّبَةٗۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ61
Verse 61: Yaitu rumah suami/istri atau anak-anak.

BACKGROUND STORY
Ayat berikut diturunkan untuk mengoreksi beberapa praktik yang tidak dapat diterima dari sebagian sahabat, terutama dalam berinteraksi dengan Nabi (ﷺ). Ketika Nabi (ﷺ) dan para sahabatnya sedang menggali Parit (Khandaq) untuk melindungi Madinah dari Pasukan Musuh, beberapa orang munafik biasa menyelinap pergi tanpa izin Nabi. Beberapa dari mereka akan menyelinap keluar dari masjid ketika Nabi (ﷺ) sedang menyampaikan khutbah (ceramah) pada hari Jumat. Mereka akan bersembunyi di balik sahabat lain lalu menyelinap pergi ketika mendapat kesempatan. Ketika Nabi (ﷺ) menyerukan pertemuan umum, mereka tidak menanggapi undangan itu dengan serius. Beberapa dari mereka biasa memanggil Nabi dengan namanya, mengatakan 'Wahai Muhammad!'
Ayat 62-63 diturunkan, menginstruksikan orang-orang beriman untuk tetap bersama Nabi (ﷺ) ketika beliau sedang mengurus urusan publik, untuk tetap tinggal selama khutbah, untuk menanggapi undangannya dengan serius, dan untuk menunjukkan rasa hormat ketika mereka berbicara kepadanya. Allah sendiri tidak pernah berfirman, 'Wahai Muhammad' dalam Al-Quran. Sebaliknya, Dia selalu berfirman, 'Wahai Nabi' atau 'Wahai Rasul.' {Imam Ibn Kathir & Imam Al-Baghawi}

Mengikuti Jejak Nabi
62Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka bersama-sama dengan dia dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) itulah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 63Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (dari majelis Rasul) secara sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (di balik orang lain). Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyalahi perintahnya, agar mereka tidak ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَإِذَا كَانُواْ مَعَهُۥ عَلَىٰٓ أَمۡرٖ جَامِعٖ لَّمۡ يَذۡهَبُواْ حَتَّىٰ يَسۡتَٔۡذِنُوهُۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَٔۡذِنُونَكَ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ فَإِذَا ٱسۡتَٔۡذَنُوكَ لِبَعۡضِ شَأۡنِهِمۡ فَأۡذَن لِّمَن شِئۡتَ مِنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمُ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 62لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ63
Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu
64Sesungguhnya, milik Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi. Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan pada hari (ketika) mereka dikembalikan kepada-Nya, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ قَدۡ يَعۡلَمُ مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ وَيَوۡمَ يُرۡجَعُونَ إِلَيۡهِ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ64