Bermegah-megahan
التَّكَاثُر
التكاثر

LEARNING POINTS
Banyak orang terlalu sibuk berlomba-lomba memperbanyak harta.
Ketika orang-orang ini berhadapan langsung dengan api, mereka akan menyadari bahwa mereka telah menyia-nyiakan hidup mereka melakukan hal-hal yang tidak berarti apa-apa.
Kita seharusnya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.


BACKGROUND STORY
Suatu hari, Nabi SAW bertemu Abu Bakar dan Umar di jalanan Madinah pada waktu yang tidak biasa. Beliau SAW bertanya mengapa mereka keluar, mereka menjawab karena mereka sangat lapar. Nabi SAW berkata bahwa beliau keluar karena alasan yang sama. Kemudian beliau membawa mereka ke rumah seorang pria dari Madinah, yang sangat gembira menjamu mereka. Pria itu membawakan kurma merah, matang, dan kering serta daging masak untuk mereka. Setelah semua selesai makan, Nabi SAW memandang teman-temannya dan membacakan ayat terakhir surah ini seraya berkata, "Kalian meninggalkan rumah dalam keadaan sangat lapar, dan sekarang kalian pulang setelah menikmati semua makanan ini." Beliau SAW ingin mereka mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)


WORDS OF WISDOM
Orang-orang berusaha meraih kebahagiaan dengan berbagai cara. Kebanyakan berpikir hanya uang yang akan membuat mereka bahagia, tidak peduli apakah itu halal (diperbolehkan) atau haram (dilarang), atau tentang orang miskin. Dalam Islam, tidak ada yang salah dengan mencari banyak uang; banyak sahabat yang dijanjikan Jannah (Surga) adalah orang kaya, seperti Abu Bakar, Utsman, dan Abdur-Rahman bin Auf. Mereka memperoleh kekayaan mereka melalui bisnis, menggunakannya untuk kehidupan yang baik dan untuk membantu orang lain.

Uang bukanlah segalanya. Misalnya, uang bisa membeli obat, tapi bukan kesehatan yang baik; tempat tidur, tapi bukan tidur; dan barang-barang mewah, tapi bukan kebahagiaan. Inilah mengapa beberapa jutawan sengsara, bahkan sampai mengakhiri hidup mereka sendiri. Hidup mereka miskin karena uang adalah satu-satunya yang mereka miliki. Salah satu cara terbaik untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membantu orang lain; ketika kita menjaga orang lain, Allah menjaga kita.

SIDE STORY
Seorang Muslim kaya, ketika ditanya tentang kebahagiaannya, menceritakan perjalanannya: Awalnya, ia menemukan kebahagiaan pada gajinya, lalu lebih lagi ketika bisnisnya berkembang pesat, memungkinkannya membeli mobil-mobil mahal, rumah-rumah mewah, bahkan sebuah klub sepak bola. Meskipun memiliki semua ini, ia merasakan kekosongan batin. Perspektifnya berubah ketika seorang teman memberitahunya tentang sebuah organisasi yang membantu anak-anak penyandang disabilitas. Ia mendonasikan 400 kursi roda. Pada acara tersebut, seorang anak dengan kursi roda baru mendekatinya, mengatakan ia ingin mengingat wajahnya untuk memohon kepada Allah agar si pendonor mendapatkan Jannah (Surga) pada Hari Kiamat. Pertemuan emosional ini membuatnya meneteskan air mata, mengungkapkan makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

WORDS OF WISDOM
Nabi (SAW) bersabda: 'Seandainya seorang manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia menginginkan yang kedua. Dan seandainya ia memiliki dua lembah, niscaya ia menginginkan yang ketiga. Tidak ada yang akan memenuhi kerakusannya kecuali tanah (di kuburnya).' Hadis ini, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

SIDE STORY
Paman Donald tidak punya ladang. Maka, setiap hari ia akan duduk di depan rumah kecilnya dengan wajah sedih. Suatu hari, raja lewat dan bertanya mengapa ia sedih. Petani itu berkata, 'Saya tidak punya ladang.' Raja bertanya, 'Jika saya memberimu tanah yang luas, apakah ini akan membuatmu bahagia?' Petani itu berkata, 'Tentu saja! Semakin besar, semakin baik.' Raja berkata, 'Saya akan membuat kesepakatan denganmu. Sejauh mana pun kamu berjalan di kerajaanku akan menjadi milikmu. Tetapi kamu harus kembali dan memberitahuku seberapa jauh kamu berjalan, agar saya bisa menuliskan kontrak untukmu.' Tentu saja, petani itu menari-nari di jalanan. Ia mulai dari desa kecilnya sampai ia mencapai kota besar sejauh 20 mil. Ia berpikir untuk kembali kepada raja. Tetapi ia berkata pada dirinya sendiri, 'Saya masih berusia 37 tahun. Saya bisa berjalan lebih jauh, dan mengambil lebih banyak tanah.' Ia berjalan ke kota lain, dan menyeberang ke provinsi lain, dan yang berikutnya. Tetapi ia berkata, 'Saya masih 44 tahun. Saya bisa berjalan lebih jauh.' Akhirnya, ia mencapai samudra. Ia berkata, 'Seluruh negeri sekarang milikku, tetapi saya masih 59 tahun. Saya bisa membangun perahu, menyeberangi samudra, dan menguasai benua di sisi lain.' Namun, ia terpeleset dan kepalanya terbentur keras saat ia sedang bekerja di dalam perahu. Akhirnya, ia meninggal dunia dan perahu itu menjadi kuburannya. Berapa banyak tanah yang ia ambil?
Hidup yang Sia-sia
1Bermegah-megahan (dalam dunia) telah melalaikanmu (dari Allah), 2hingga kamu mengunjungi kubur. 3Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. 4Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. 5Sesungguhnya, jika kamu memiliki pengetahuan yang yakin tentang kesudahanmu, niscaya kamu akan bertindak berbeda. 6Namun, niscaya kamu akan melihat neraka. 7Kemudian, niscaya kamu akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. 8Kemudian, pada hari itu, niscaya kamu akan ditanya tentang kenikmatan duniawi.
أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ 1حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ 2كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 3ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ 4كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ 5لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ 6ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ 7ثُمَّ لَتُسَۡٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ8